Oleh Von Edison Alouisci
http://v-e-alouisci.blogspot.com
PERTANYAAN :
1.apakah Surah Al-Baqarah ayat 115 “fa’ainamaa tuwallufatsamma wajhullah” yang artinya
“kemana pun engkau menghadap, di sanalah wajah Allah,” nah kata wajhullah (wajah Allah) apakah tidak perlu ta’wil Sehinggadiartikan Allah Punya wajah walau tidaksama seperti mahluknya.i bukankah tetapsaja punya wajah ??”
http://v-e-alouisci.blogspot.com
PERTANYAAN :
1.apakah Surah Al-Baqarah ayat 115 “fa’ainamaa tuwallufatsamma wajhullah” yang artinya
“kemana pun engkau menghadap, di sanalah wajah Allah,” nah kata wajhullah (wajah Allah) apakah tidak perlu ta’wil Sehinggadiartikan Allah Punya wajah walau tidaksama seperti mahluknya.i bukankah tetapsaja punya wajah ??”
2. “Apakah surah Az-Zumar ayat 67 “wal ardhu jamii’a qabdlotuhu yaumal qiyaamati wa samaawaatu muthwiyyaatun biyamiinihi”yang artinya “dan bumi seutuhnya dalam genggaman-Nya dan langit digulung dengantangan kanan-Nya” tidak perlu di takwil sehingga diartikan Allah punya tangan walaupun tidak seperti manusia?? Bukankah tetap saja artinya punya tangan??
3. Apakah makna Ka’bah dan Allah dalam rangkaian kata Ka’batullah yang asal kata Ka’ba – Ki’aaba dan artinyamata kaki tidak perlu ditakwil sehingga artinya menjadi mata kaki Allah ?”
3. Apakah makna Ka’bah dan Allah dalam rangkaian kata Ka’batullah yang asal kata Ka’ba – Ki’aaba dan artinyamata kaki tidak perlu ditakwil sehingga artinya menjadi mata kaki Allah ?”
Bagaimana kalau kataKa’batullah itu dipungut dari kata Ka’aba yang bermakna tetek atau susu,apakah itu harus bermakna tetek Tuhan tidak perlu di takwil ?
Bagaimana pula jikakata itu dipungut dari kata Ka’abati – Ki’abatan yang bermakna gadismontok, Apakah boleh dimaknai Tuhan itu serupa gadis montok karna tidak perlutakwil ?
dan bagaimana pula jika kata itu dipungut dari kata Ka’aba yang bermaknasegi empat, apakah boleh dimaknai Tuhan itu segi empat wujudnya dan tak perludi takwil ??
4.apakah mesti “Ayat 5 surah Thaha“al-Rahmaan ‘ala al-‘Arsy istawa” dimaknai “Tuhan benar-benar bersemayam ditempat yang disebut ‘Arsy”;
al-Rahman itu dimaknai “Tuhan” yangpunya wajah sebagaimana ayat 115 surah Al-Baqarah “fa’ainamaa tuwallufatsamma wajhullah”
dan ayat 88 surah al-Qashash “kullu syai’in halikun illa wajhahu”;al-Rahman dimaknai tanpa ta’wil sebagai“Tuhan” yang punya tangan sebagaimana ayat 67 surah Az-Zumar “wal ardhu jamii’a qabdlotuhu yaumal qiyaamati wa samaawaatu muthwiyyaatun biyamiinihi ??bukankah semua itu tetap saja Allah seperti punya Tubuh walau tak sama dgnmakluknya ??
nah dengan demikian a itu artinya wahabi bukankah menyamakan Allah sebagaimakhluk karna tidak butuh takwil ??
5. Apakah maknaayat “mereka telah lupa kepada Allah, Maka Allah melupakan mereka.” (QS.9 [atTaubah] :67) dan ayat “Sesungguhnya Kamitelah melupakan kamu.” (QS.32 [as Sajdah];14) Tidak perlu takwil sehingga Allah mesti dikatakan punya sipat Lupa ??
bukankah jadi orang tidak l waras untuk mengatakan bahwa “Allahlupa, tetapi tidak seperti lupa kita, Allah duduk tetapi tidak seperti dudukkita, Allah bersemayam di langit tetapi Dia tidak menyerupai sesuatu apapun.” Kata-kataterakhir (tetapi tidak seperti lupa kita dll.)
ttidak berguna sama sekali, karna tidak akan bisa t menghindarkan dari kelakuan tasybîh dan tajsîm, padahal tidak semua kata yang datangdalam sifat Allah SWT. dapat ditetapkan sebagai sifat bagi Allah secaralahiriyah.
dan bagaimana pula jika kata itu dipungut dari kata Ka’aba yang bermaknasegi empat, apakah boleh dimaknai Tuhan itu segi empat wujudnya dan tak perludi takwil ??
4.apakah mesti “Ayat 5 surah Thaha“al-Rahmaan ‘ala al-‘Arsy istawa” dimaknai “Tuhan benar-benar bersemayam ditempat yang disebut ‘Arsy”;
al-Rahman itu dimaknai “Tuhan” yangpunya wajah sebagaimana ayat 115 surah Al-Baqarah “fa’ainamaa tuwallufatsamma wajhullah”
dan ayat 88 surah al-Qashash “kullu syai’in halikun illa wajhahu”;al-Rahman dimaknai tanpa ta’wil sebagai“Tuhan” yang punya tangan sebagaimana ayat 67 surah Az-Zumar “wal ardhu jamii’a qabdlotuhu yaumal qiyaamati wa samaawaatu muthwiyyaatun biyamiinihi ??bukankah semua itu tetap saja Allah seperti punya Tubuh walau tak sama dgnmakluknya ??
nah dengan demikian a itu artinya wahabi bukankah menyamakan Allah sebagaimakhluk karna tidak butuh takwil ??
5. Apakah maknaayat “mereka telah lupa kepada Allah, Maka Allah melupakan mereka.” (QS.9 [atTaubah] :67) dan ayat “Sesungguhnya Kamitelah melupakan kamu.” (QS.32 [as Sajdah];14) Tidak perlu takwil sehingga Allah mesti dikatakan punya sipat Lupa ??
bukankah jadi orang tidak l waras untuk mengatakan bahwa “Allahlupa, tetapi tidak seperti lupa kita, Allah duduk tetapi tidak seperti dudukkita, Allah bersemayam di langit tetapi Dia tidak menyerupai sesuatu apapun.” Kata-kataterakhir (tetapi tidak seperti lupa kita dll.)
ttidak berguna sama sekali, karna tidak akan bisa t menghindarkan dari kelakuan tasybîh dan tajsîm, padahal tidak semua kata yang datangdalam sifat Allah SWT. dapat ditetapkan sebagai sifat bagi Allah secaralahiriyah.
6.Dalam Shahih Muslim disebutkan sebuah riwayat hadis qudsi:“Hai anak Adam,AKU SAKIT tapi engkau tidak menjenguk-Ku. Ia [hamba]berkata, ‘Bagaimana aku menjenguk-Mu sementara Engkau adalah Rabbul ‘Âlamîin?’Allah menjawab, ‘Tidakkah engkau mengetahui bahwa hamba-Ku si fulan sakit,engkau tidak menjenguknya, tidakkah engkau mengetahui bahwa jika engkau menjenguknyaengkau akan dapati Aku di sisinya…“ (HR. Muslim,4/1990, hadis no.2569) Apakahbolehkah kita mengatakan, “Kita akanmenetapkan bagi Allah sifat sakit, tetapi sakit Allah tidak seperti sakit kita;makhluk-Nya?!! Pemikiran akal sehat apaitu ??
Padahal Makna hadis di atas menurut para ulama sebagaimana diuraikan Imam Nawawi dalam Syarah Muslim sebagaiberikut, “Para ulama berkata, ‘disandarkannya sifat sakit kepada-Nyasementara yang dimaksud adalah hamba sebagai tasyrîf, pengagungan bagi hambadan untuk mendekatkan. Para ulama berkata tentang maksud ‘engkau akandapati Aku di sisinya’engkau akan mendapatkan pahala dari-Ku dan pemuliaan-Ku…“ (Syarah Shahih Muslim,16/126)
Padahal Makna hadis di atas menurut para ulama sebagaimana diuraikan Imam Nawawi dalam Syarah Muslim sebagaiberikut, “Para ulama berkata, ‘disandarkannya sifat sakit kepada-Nyasementara yang dimaksud adalah hamba sebagai tasyrîf, pengagungan bagi hambadan untuk mendekatkan. Para ulama berkata tentang maksud ‘engkau akandapati Aku di sisinya’engkau akan mendapatkan pahala dari-Ku dan pemuliaan-Ku…“ (Syarah Shahih Muslim,16/126)
7. Apakah makna ayat “Pada hari betisdisingkapkan.” (QS.68 [al Qalam]:42) tidak perlu ditakwil sehingga Betis itudiartikan Betis Sebagaimana betis manusia ??
padahal Ibnu Abbas ra. berkata, “Disingkap dari kekerasan (kegentingan).”Disini kata ساقٍ (betis) dita’wîl denganmakna شِدَّةٌkegentingan.
Ta’wîl di atas telah disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Fathu al Bâri,13/428dan Ibnu Jarir dalam tafsirnya,29/38. Ia mengawali tafsirnya dengan mengatakan, “Berkatasekelompok sahabat dan tabi’în dari para ahli ta’wîl , maknanya ialah, “Hari dimana disingkap (diangkat) perkara yang genting.” Nah bukankah ini penjelasanSalafus sholeh ?? wahabi ngaku salafusSholehnya siapa jika ngaku salafi tapibertentangan dgn pendapat ulama salaf,tabiin dan tabiun?? Padahal Wahabipunya slogan top yaitu: “Kembali kepada Al-Qur’an dan Al-Sunnah menurutpemahaman Sahabat, tabiin dan tabiun”. Wahabi lebih pantas ngikut salafussyaraf muhammad bin abdul wahab.
Pertanyaannya : dari mana kelompoksalafi palsu ini mengklaim mengetahui cara para sahabat, tabiin dan tabiuttabiin ini memahami Al-Quran dan As-Sunnah, padahal mereka (para Sahabat) tidakpernah membukukan metode tersebut ??
8. Dalam Hadis Qudsi:Allah s.w.t. berfirman: “Wahai HambaKu. Aku lapar, mengapa kau tidak memberimakan kepadaKu?”(hadis riwayat Muslim).Apakah hadits ini tdak perlu di takwil??
9. Hadis Qudsi: Allah s.w.t. berfirman: "...Jika Aku mencintainya(seseorang hamba itu), maka Aku (Allah) jadi pendengarannya yang dia mendengardengannya, Aku jadi penglihatannya yang dia melihat dengannya, Aku jaditangannya yang dia meraba-raba dengannya dan Aku jadi kakinya yang diamelangkah dengannya..." (Hadis riwayat Al-Bukhari) apakah tidak perluditakwil ??
10.
9. Hadis Qudsi: Allah s.w.t. berfirman: "...Jika Aku mencintainya(seseorang hamba itu), maka Aku (Allah) jadi pendengarannya yang dia mendengardengannya, Aku jadi penglihatannya yang dia melihat dengannya, Aku jaditangannya yang dia meraba-raba dengannya dan Aku jadi kakinya yang diamelangkah dengannya..." (Hadis riwayat Al-Bukhari) apakah tidak perluditakwil ??
10.
SesungguhnyaSafus sholeh Menafikan aslul kaif berarti, mencegah orang daripadamenggambarkan lafaz-lafaz mutasyabihat tersebut dengan maknanya dari sudutbahasa (atau dari makna dhahirnya), kerana sebagian orang,ketika mendengar sajatentang perkara-perkara mutasyabihat, mereka terus menggambarkan sifat-sifattersebut dengan maknanya dari sudut bahasa, yang membawa kepada femahamantajsim atau menjisimkan Allah s.w.t..
Kaifitu sendiri dari sudut bahasa ialah: meletakkan sesuatu yang dinisbahkan kepadasesuatu yang lain, atau menggambarkan sesuatu dinisbahkan kepada anggota yanglain. Maksudnya, kaif itu sendiri adalah apabila seseorang menggambarkankeadaan sesuatu, dengan susunan bentuknya dan sebagainya, seperti ketika orangmembayangkan kaif Zaid, dia akan menggambarkan susunan bentuk tubuh Zaid darimuka sampai ke kaki. Jadi, inilah yang dilarang oleh salafus soleh, iaitularangan daripada menggambarkan bahwa Tuhan itu berjisim. Ini namanya menafikanAsal Kaif itu sendiri.
Contohnya, para salafus soleh tidakmemahami apa yang dimaksudkan oleh Allah s.w.t. dengan perkataan yadd Allah,lalu melarang orang lain menggambarkan kaif sifat yadd tersebut dengan maknanyadari sudut bahasa (iaitu anggota tangan). Ini adalah menafikan aslu kaif sifattersebut.
Contohnya, para salafus soleh tidakmemahami apa yang dimaksudkan oleh Allah s.w.t. dengan perkataan yadd Allah,lalu melarang orang lain menggambarkan kaif sifat yadd tersebut dengan maknanyadari sudut bahasa (iaitu anggota tangan). Ini adalah menafikan aslu kaif sifattersebut.
Inilah maksud yang sebenarnua darikata-kata Imam Malik jika ditinjau dgn menerusuri dua riwayat imam malik yangberbeda berkenaan dengan ucapan ini. Yang dimaksudkan bukan menafikan ilmu kaiftetapi aslul kaif. Bahkan, selain daripada ucapan Imam Malik ini, tidakterhitung jumlah perkataan ulama’-ulama’ salaf yang menolak konsep isbat maknalughowi (dari sudut bahasa) atau isbat makna dhahir bagi nas-nas mutasyabihatini.
Silalah rujuk sendiri kitab Al-Asma’ wa As-Sifatkarangan Sheikh Al-Hafiz Al-Baihaqi, di mana terdapat banyak ucapan-ucapan parasalafus soleh yang mengamalkan tafwidh makna dalam berhadapan dengan nas-nasmutasyabihat ini. Kalau sedikit bawakan satu kata dari Imam Malik, yang jugadisalah arti sebagai tafwidh kaifiyat (padahal tidak demikian jika ditinjaudari dua riwayat yang berbeda), untuk digunakan hujah dalam mematah sawadula’zhom (majoritas umat Islam) sejak zaman salafus soleh yang menggunakan manhajtafwidh makna, ataupun ta’wil ijmali, maka lebih baik lupakan saja niattersebut. YaduLLah ma’al jamaah (Sesungguhnya bantuan Allah s.w.t. itu bersamadengan jemaah dan majorita umat Islam).